Contoh Skripsi – Pengaruh Akhlak Terhadap Siswa

PENGARUH MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

TERHADAP PERKEMBANGAN PERILAKU SISWA

DI  MTS. AL-MUHAJIRIN CIPAYUNG

Oleh :

ASEP SUNARDI

PAI III Reguler

Di Bawah Bimbingan

NANA SUMARNA, S.Ag., M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM HAJI AGUS SALIM

CIKARANG

1432 H / 2013 M


KATA PENGANTAR

 

 Assalamu’alaikumWr. Wb

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan tugas akhis semester ini.

Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya menuju jalan yang diridhoi Allah SWT.

Selanjutnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen bidang studi Metode Penulisan Karya Tulis yang telah membimbing saya dalam menyusun karya tulis ini. Juga saya ucapkan banyak terima kasih pula kepada teman – teman yang telah ikut membantu dalam penulisan karya tulis ini.

Semoga karya tulis yang saya susun ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun, umumnya bagi pembaca. saya menyadari dalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya butuhkan guna menyempurnakan karya tulis – karya tulis kami selanjutnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Cikarang,  13 Januari 2013

Penulis

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………….    i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………….   ii

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………..   1

1.1.       Latar Belakang ……………………………………………………………………….   1

1.2.       Identifikasi  Masalah ……………………………………………. .     3

1.3.       Rumusan Masalah ………………………………………………..      4

1.4.       Tujuan dan Manfaat Penelitian ..………………………………….     4

1.5.       Metode Penelitian …………………………………………………     5

BAB II KAJIAN TEORITIK ………………………………………………..     9

2.1         Hakikat Akhlak ……………………………………………………     9

2.1.1   Pengertian Akhlak …………………………………………..    9

2.1.2   Seumber dan Macam-macam Akhlak  …………………….     12

2.1.3   Tujuan Akhlak ………………………………………………   17

2.1.4   Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Akhlak …………   19

2.2          Hipotesa ……………………………………………………………   20


BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar BelakangSebagaimana yang sudah di fahami, bahwa manusia pada usia remaja masih perlu bimbingan dari orang dewasa serta jiwanya masih belum stabil, maksudnya mereka masih mengikuti apa yang  ada di lingkungannya serta masih belum bisa memilih antara yang baik dan buruk untuk dirinya, kebanyakan mereka tidak berfikir apakah ini baik untuk saya atau tidak? Melainkan apakah ini menyenangkan untuk saya atau tidak? Apakah ini bisa membuat saya keren atau tidak?

Akibat cara berfikir seperti itulah banyak dari mereka melakukan hal – hal negatif yang  merusak dan menyesatkan artinya keluar dari norma – norma agama seperti : merokok, tawuran, minum – minuman keras, bolos sekolah dan membangkang pada dewan guru, selain dari perilaku itu, dalam berbicara juga sangat tidak mencerminkan keagamaan, tidak adanya etika dan sopan santun. Secara tidak langsung, perilaku seperti itulah yang mencoreng nama pendidikan dimata masyarakat.

Padahal seperti yang idakn untuk saya atau tidak?ya, kebanyakan mereka berfikir tentang yang membuat mereka senang bukan baik dan b sudah diketahui bahwa inti ajaran islam meliputi : masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syari’ah) dan masalah  ikhsan (akhlak). Hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan ajaran agama islam, bahkan bisa dikatakan merupakan kebalikan dari ajaran islam.

Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan. Dengan demikian, akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal, berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungandengan Allah, manusia dan alam lingkungan.

Pada hakekatnya pendidikan merupakan kebutuhan yang utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, bahkan manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian utama tanpa melalui pendidikan. Pendidikan merupakan peranan penting dalam kehidupan setiap manusia dalam mencapai hidup yang sesungguhnya.

Begitu pula dengan pendidikan aqidah akhlak di madrasah Tsanawiyah memang bukan satu – satunya faktor yang mempengaruhi terhadap tingkah laku siswa. Namun disamping itu, pendidikan akhlak juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan tingkahlaku siswa. Pendidikan aqidah dan akhlak merupakan dasar dari setiap pendidikan, juga merupakan pondasi serta benteng dari perkembangan zaman yang tidak lepas dari budaya luar yang menyesatkan.

Islam bukanlah agama yang ketinggalan zaman atau pun agama yang mengikutizaman, tetapiislamadalah agama yang menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa mengimbanginya. Dengan pendidikan aqidah akhlak diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa yang diwujudkan dalam tingkah laku terpuji pada kondisi zaman seperti sekarang ini.

Maka dari itu, pendidikan akidah akhlak mempunyai arti dan  peranan penting dalam pembentukan tingkah laku siswa. Sebab dalam pendidikan aqidah akhlak ini siswa tidak hanya diarahkan kepada kebahagiaan hidup di dunia saja, tetapi juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat.

Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dapat dipandang sebagai suatu wadah untuk membina dan membentuk tingkah laku siswa dalam mengembangkan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik).

Dan untuk mewujudkan tujuan di atas tentunya harus di tunjang dengan berbagai faktor, seperti guru atau pendidik, lingkungan, motivasi dan sarana yang relevan. Perkembangan dan pertumbuhan tingkahlaku siswa berjalan cepat atau lambat tergantung pada sejauh mana faktor–faktor pendidikan aqidah akhlak dapat disediakan dan difungsikan sebaik mungkin. Dalam hal ini,  lembaga sekolah tidak hanya menyangkut kecerdasan anak semata, melainkan juga menyangkut tingkah dan perilaku serta kepribadian anak.

Namun, faktanya yang terjadi pada perilaku siswa MTs ini menyimpang dari yang diarahkan di atas, banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari masyarakat yang mengherankan perilaku siswa Madrasah yang seolah-olah bukan siswa madrasah.

1.2         Identifikasi Masalah

Untuk menfokuskan kajian pada permasalahan yang telah dirumuskan, penulis perlu menegaskan beberapa hal yang berkaitan dengan judul, yaitu:

  1. Pendidikan aqidah akhlak

Dalam hal ini peneliti memfokuskan pada pembahasan tentang materi pelajaran Aqidah Akhlak di Mts. Al-Muhajirin.

  1. Tingkahlaku

Untuk tingkahlaku ini peneliti menfokuskan pada perbuatan baik dan buruk yang dilakukan siswa sebelum dan sesudah mempelajari mata pelajaran Aqidah Akhlak Mts. Al-Muhajirin.

1.3         Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas dalam kaitannya dengan judul ini, maka rumusan masalah yang menjadi pokok bahasan dan pedoman penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana pembelajaran Aqidah Akhlak di Mts. Al-Muhajirin ?
  2. Apakah ada pengaruh pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik Mts. Al-Muhajirin ?

1.4         Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4.1             Tujuan Penelitian

Dari beberapa pokok permasalahan yang telah dirumuskan di atas maka tujuan yang hendak dicapai di dalan penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui proses pembelajaran Aqidah Akhlak di Mts. Al-Muhajirin.
  2. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap perilaku peserta didik Mts. Al-Muhajirin.

1.4.2             Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian yang menjadi salah satu syarat untuk

Menyelesaikan Ujian Akhir Semester ini, insyaallah penelitian ini bermanfaat untuk :

  1. MTs. Al-Muhajirin Cipayung, dalam mengetahui pengaruh pendidikan agama Islam terhadap akhlak anak didik di MTs. Al-Muhajirin Cipayung,
  2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi bagi para pendidik dalam menerapkan mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi pengaruh terhadap akhlak anak didik di MTs. Al-Muhajirin Cipayung,

1.5         Metode Penelitian

1.5.1             Metode Penelitian

Dalam pembahasan skripsi ini, penulis menggunakan beberapa metode yaitu:

  1. Metode Induksi

Menurut Sukandarrumidi metode induksi adalah : “Suatu pola berpikir yang menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual”.

Metode ini dimaksud untuk membahas suatu masalah dengan jalan mengumpulkan data dan fakta-fakta yang bersifat khusus atau peristiwa-peristiwa konkrit yang ada hubungannya dengan pokok bahasan, kemudian diambil pengertian atau kesimpulan.

  1. Metode Deduksi

Dari pendapatnya Sukandarrumidi dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian: “Metode deduksi adalah pola berpikir yang bertitik tolak dari pernyataan yang bersifat umum, dan menarik kesimpulan yang bersifat khusus”.

Berdasarkan metode ini penulis mempergunakan untuk membahas permasalahan yang bersifat umum yang ada kaitannya dengan pokok pembahasan kemudian ditarik suatu kesimpulan yang khusus.

1.5.2             Strategi Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini termasuk dalam katagori jenis penelitian deskriptip kuantitatif, yaitu: mengumpulkan informasi dan membuat deskripsi tentang suatu fenomena, yaitu keadaan fenomena menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan

  1. Penentuan Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Sedangkan menurut Sukandarrumidi populasi adalah keseluruhan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah semua obyek yang akan diteliti yaitu Kepala Madrasah, seluruh guru agama dan seluruh siswa MTs. Al-Muhajirin dengan jumlah 150 siswa.

  1. Penentuan Sampel

Yang dimaksud sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Adapun sampel penelitian ini penulis tentukan dengan menggunakan teknik random sampling yaitu: pengambilan sampel random, peneliti “mencampur” subyek-subyek didalam populasi, sehingga semua subyek dianggap sama, (Suharsimi Arikunto)

Dalam artian random sampling mengambil semua individu yang ada dalam populasi, sehingga semua dianggap sama atau diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel dalam penelitian dan dalam pelaksanaannya pengambilan sampel tersebut penulis menentukan dahulu kelas berapa dan apa saja yang akan dijadikan sampel. Sampel ini diambil 15 % atau lebih dari keseluruhan jumlah siswa yaitu kira-kira 50 siswa. Mengenai besar kecilnya sampel siswa yang diambil dalam penelitian penelitian ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa “untuk sekedar ancar-ancar apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua.


BAB II

KAJIAN TEORITIK

 2.1         Hakikat Akhlak

2.1.1    Pengertian Akhlak

Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” (خلق) yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” ( خلق) yang berarti kejadian, serta erat hubungan “Khaliq” (خالق) yang berarti Pencipta dan “Makhluk” (مخلوق) yang berarti yang diciptakan.[1]

Baik kata akhlaq atau khuluq kedua-duanya dapat dijumpai di dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

وَٳِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ ۞

Artinya :

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam, 68:4).[2]

 Sedangkan menurut pendekatan secara terminologi, berikut ini beberapa pakar mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:

  1. Ibn Miskawaih

Bahwa akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk

melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahulu.[3]

  1. Imam Al-Ghazali

Akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbanagan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara’, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk. [4]

  1. Prof. Dr. Ahmad Amin

Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak. Menurutnya kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah imbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya, Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan besar inilah yang bernama akhlak.[5]

Jika diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa seluruh definisi akhlak sebagaimana tersebut diatas tidak ada yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, yaitu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan.

Jika dikaitkan dengan kata Islami, maka akan berbentuk akhlak Islami, secara sederhana akhlak Islami diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang kata akhlak dalam menempati posisi sifat. Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebernya berdasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal.[6]

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menjabarkan akhlak universal diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral. Menghormati kedua orang tua misalnya adalah akhlak yang bersifat mutlak dan universal. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati oarng tua itu dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran manusia.  Jadi, akhlak islam bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati bagi penyakit social dari jiwa dan mental, serta tujuan berakhlak yang baik untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dengan demikian akhlak Islami itu jauh lebih sempurna dibandingkan dengan akhlak lainnya. Jika aklhak lainnya hanya berbicara tentang hubungan dengan manusia, maka akhlak Islami berbicara pula tentang cara berhubungan dengan binatang, tumbuh-tumbuhan, air, udara dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, masing-masing makhluk merasakan fungsi dan eksistensinya di dunia ini.

2.1.2   Sumber dan Macam-macam  Akhlak 

2.1.2.1       Sumber Akhlak        

Persoalan “akhlak” didalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat dalam al-Hadits sumbertersebut mrupakan batasan-batasan dalam tindakan sehari-hri bagi manusia ada yang menjelaskan artibaik dan buruk. Memberi informasi kepada umat, apa yang mestinya harus diperbuat dan bagaimana harus bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan itu terpuji atau tercela, benar atau salah. [7]

Kita telah mengetahui bahwa akhlak Islam adalah merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertititk tolak dari aqidah yang diwahyukan Allah kepada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.

Akhlak Islam, karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepada

kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari pada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok daripada akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri.[8]

Pribadi Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. Begitu juga sahabat-sahabat Beliau yang selalu berpedoman kepada al-Qur’an dan as-Sunah dalam kesehariannya.

Beliau bersabda :

عن ٲنس بن مالكِ قال النَّبيُّ صلى اللَّه عليه وسلم : تركت  فيكم أمرين لن تضلوا  بعد هما كتاب اللّه وسنّتى.

Artinya:

Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Nabi saw bersabda,”telah ku tinggalkan atas kamu sekalian dua perkara, yang apabila kamu berpegang kepada keduanya, maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa segala perbuatan atau tindakan manusia apapun bentuknya pada hakekatnya adalah bermaksud mencapai kebahagiaan, sedangkan untuk mencapai kebahagiaan menurut sistem moral atau akhlak yang agamis (Islam) dapat dicapai dengan jalan menuruti perintah Allah yakni dengan menjauhi segala larangan-Nya dan mengerjakan segala perintah-Nya, sebagaimana yang tertera dalam pedoman dasar hidup bagi setiap muslim yakni al-Qur’an dan al-Hadits.

2.1.2.2       Macam-macam Akhlak

a)   Akhlak Al-Karimah

Akhlak Al-karimah atau akhlak yang mulia sangat amat jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Akhlak Terhadap Allah

Akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji demikian Agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan menjangkau hakekatnya.

  1. Akhlak terhadap Diri Sendiri

Akhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebgai ciptaan dan amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.

Contohnya : Menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian jiwa, hidup sederhana serta jujur dan hindarkan perbuatan yang tercela.

  1. Akhlak terhadap sesama manusia

Manusia adalah makhluk social yang kelanjutan eksistensinya secara fungsional dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu, ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Islam menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, Karena ia berjasa dalam ikut serta mendewasaan kita, dan merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukan dengan memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan dan menghargainya.[9]

Jadi, manusia menyaksikan dan menyadari bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang tidak dapat terbilang dan karunia kenikmatan yang tidak bisa dihitung banyaknya, semua itu perlu disyukurinya dengan berupa berzikir dengan hatinya. Sebaiknya dalm kehidupannya senantiasa berlaku hidup sopan dan santun menjaga jiwanya agar selalu bersih, dapt tyerhindar dari perbuatan dosa, maksiat, sebab jiwa adalah yang terpenting dan pertama yang harus dijaga dan dipelihara dari hal-hal yang dapat mengotori dan merusaknya. Karena manusia adalah makhluk sosial maka ia perlu menciptakan suasana yang baik, satu dengan yang lainnya saling berakhlak yang baik.

b)   Akhlak Al-Mazmumah

Akhlak Al-mazmumah (akhlak yang tercela) adalah sebagai lawan atau kebalikan dari akhlak yang baik seagaimana tersebut di atas. Dalam ajaran Islam tetap membicarakan secara terperinci dengan tujuan agar dapat dipahami dengan benar, dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya. Berdasarkan petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang tercela, di antaranya:

  1. Berbohong

Ialah memberikan atau menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

2. Takabur (sombong)

Ialah merasa atau mengaku dirinya besar, tinggi, mulia, melebihi orang lain. Pendek kata merasa dirinya lebih hebat.

3. Dengki

Ialah rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain.

4. Bakhil atau kikir

Ialah sukar baginya mengurangi sebagian dari apa yang dimilikinya itu untuk orang lain.[10]

Sebagaimana diuraikan di atas maka akhlak dalam wujud pengamalannya di bedakan menjadi dua: akhlak terpuji dan akhlak yang tercela. Jika sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya yang kemudian melahirkan perbuatan yang baik, maka itulah yang dinamakan akhlak yang terpuji, sedangkan jika ia sesuai dengan apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya dan melahirkan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka itulah yang dinamakan akhlak yang tercela.

2.1.3   Tujuan Akhlak

Tujuan dari pendidikan akhlak dalam Islam adalah untuk membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci. Dengan kata lain pendidikan akhlak bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan (al-fadhilah).

Berdasarkan tujuan ini, maka setiap saat, keadaan, pelajaran, aktifitas, merupakan sarana pendidikan akhlak. Dan setiap pendidik harus memelihara akhlak dan memperhatikan akhlak di atas segala-galanya.[11]

Barmawie Umary dalam bukunya materi akhlak menyebutkan bahwa tujuan berakhlak adalah hubungan umat Islam dengan Allah SWT dan sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.[12]

Sedangkan Omar M. M.Al-Toumy Al-syaibany, tujuan akhlak adalah menciptakan kebahagian dunia dan akhirat, kesempurnaan bagi individu dan menciptakan kebahagian, kemajuan, kekuataan dan keteguhan bagi masyarakat.[13]

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan akhlak pada

prisnsipnya adalah untuk mencapai kebahagian dan keharmonisan dalam

berhubungan dengan Allah SWT, di samping berhubungan dengan  sesama makhluk dan juga alam sekitar, hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna serta lebih dari makhluk lainnya.

Pendidikan agama berkaitan erat dengan pendidikan akhlak, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah apa yang dianggap buruk oleh agama. Sehingga nilai-nilai akhlak, keutamaan akhlak dalam masyarakat Islam adalah akhlak dan keutamaan yang diajarkan oleh agama.

2.1.4   Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Akhlak 

Dalam Pendidikan Agama Islam. Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan intelektualitas dalam arti bukan hanya meningkatkan kecerdasan saja, melainkan juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, yang mencakup aspek keimanan, moral atau mental, prilaku dan sebagainya.

Pembinaan kepribadian atau jiwa utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan khususnya pendidikan. Sasaran yang ditempuh atau dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia dan tingkat kemulian akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan.

Dalam pembentukan akhlak siswa, hendaknya setiap guru menyadari bahwa dalam pembentukan akhlak sangat diperlukan pembinaan dan latihan-latihan akhlak pada siswa bukan hanya diajarkan secara teoritis, tetapi harus diajarkan ke arah kehidupan praktis.

Agama sebagai unsur esensi dalam kepribadian manusia dapat memberi peranan positif dalam perjalanan kehidupan manusia, selain kebenarannya masih dapat diyakini secara mutlak.

Dalam hal pembentukan akhlak remaja, pendidikan agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupannya. Pendidikan agama berperan sebagai pengendali tingkah laku atau perbuatan yang terlahir dari sebuah keinginan yang berdaran emosi. Jika ajaran agama sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya sehari-hari dan sudah ditanamkannya sejak kecil, maka tingkah lakunya akan lebih terkendali dalam menghadapi segala keinginan-keinginannya yang timbul.

2.2         Hipotesa

Berdasarkan tinjauan teoritis yang dikemukakan di atas, maka peneliti mengajukan pertanyaan sebagai berikut : Apakah siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran agama, mempunyai akhlak yang lebih baik dari siswa yang memperoleh nilai rendah.

Berdasarkan pertanyaan diatas maka dapat diajukan hipotesa sebagai berikut :

Ho : Tidak ada perbedaan akhlak siswa antara yang memperoleh nilai   tinggi dalam pelajaran agama dengan siswa yang memperoleh nilai rendah.

Ha : Siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran agama memiliki akhlak yang lebih baik jika dibandingkan dari siswa yang memperoleh nilai rendah.


[1] Zahruddin AR. Pengantar Ilmu Akhlak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Cet

ke-1, h. 1

[2] al-Qur’an dan Terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia, (Jakarta: CV. Toha Putra Semarang, 1989), h. 960

[3] Zahruddin AR. Pengantar Ilmu Akhlak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), Cet

ke-1, h. 4

[4] Prof. Dr. H. Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf, ( PT. Mitra Cahaya Utama, 2005), Cet ke-2,

[5] Zahruddin AR, h. 4-5.

[6] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003),

Cet ke-5, h. 147

[7] Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1997), Cet ke-2, h. 149

[8] Ibid, h, 149-150

[9] Prof. Dr. H. Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf, ( PT. Mitra Cahaya Utama, 2005), Cet ke-2, h.49-57

[10] Ibid, h. 57-59

[11] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 115

[12] Drs. Barnawie Umary,  Materi Akhlak, (Solo: CV Ramadhani, 1988). h 2

[13] Omar M. M.Al-Toumy Al-syaibany, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1979), Cet ke-2, h.346

2 thoughts on “Contoh Skripsi – Pengaruh Akhlak Terhadap Siswa

  1. Ping-balik: skripsi pengaruh pendidikan agama islam terhadap akhlak siswa | Contoh Makalah

  2. Ping-balik: skripsi tentang pengaruh pendidikan agama islam terhadap pembentukan akhlak siswa | Contoh Makalah

Berikan Komentar Anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s